Suatu hari, salah seorang temanku, seorang perempuan—anggap saja namanya F (16 tahun, saat itu)—curhat kepadaku tentang rasa kesalnya terhadap salah seorang sahabatku (mari kita anggap dia G, 16 tahun, saat itu). Sahabatku itu, menurut dia, adalah orang yang sombong dan sok yang tidak bisa menghargai perasaan orang lain, terutama perempuan.
Sikap sahabatku itu membuat dia kesal dan akhirnya memutuskan keluar dari ekskulnya. Aku mendengarnya secara seksama, dan sebagian diriku juga tak mampu menyangkal bahwa beberapa sifat dari sahabatku itu memang menyebalkan. Bahwa aku juga pernah merasakan sakit hati oleh sikapnya.
Diakhir pembicaraan itu, temanku itu berkata, “Aku mah heran sama kamu, Fan. Kok mau-maunya berteman sama orang yang kayak gitu?” Karena tak tahu jawabannya, aku hanya tersenyum.
Diam-diam perkataan itu begitu membekas dalam diriku. Aku memikirkannya selama berhari-hari, mencoba mencari tahu kenapa aku mau berteman dengan sahabatku itu. Mungkin aku perlu memberitahumu bahwa salah satu kelemahanku adalah mudah terpengaruh oleh omongan orang.
Ketika pada saat istirahat berhari-hari kemudian aku ngobrol dengan sahabatku itu, tanpa sengaja obrolan kami beralih topik menjadi obrolan tentang F. G menceritakan beberapa hal buruk tentang F yang membuat sebagian diriku juga menyetujui itu, bahwa F juga sinis, sok, dan sedikit ‘kejam’.
Tiba-tiba sewaktu jam pelajaran selepas istirahat itu, aku bisa melihat masalah ini dengan lebih jelas. Tidak ada seorangpun yang sempurna, bukan? Barangkali dalam hati F dan G pun tersimpan begitu banyak keburukanku yang mereka simpan rapat-rapat dan (mungkin) akan mereka ceritakan kepada orang lain ketika mereka kesal terhadapku.
Lantas, apa makna kejadian tersebut bagi buku ini?
Kawanku, dalam melihat suatu masalah, kita harus melihatnya dari segala sudut, dari segala aspek. Kita harus berpikir holistik, melihat segala sesuatu secara menyeluruh. Jika saja pada saat itu, aku terburu-buru mengambil kesimpulan atas masalah yang dialami F, tentu hubunganku dengan G akan buruk. Tapi ketika aku melihat masalah itu dari banyak sudut (sudut pandang F dan G, paling tidak) aku bisa lebih jelas melihat inti dari permasalahan itu dan karenanya lebih terarah dalam mencari alternatif penyelesaian yang terbaik.
Apa akibatnya jika kita hanya melihat masalah dari satu sisi saja?
Dampak buruknya adalah kita tidak akan benar-benar tahu apa inti masalah yang kita hadapi, karena kita hanya melihat masalah itu dari satu perspektif saja yang pasti akan penuh subjektifitas. Jika kita tidak benar-benar tahu apa inti masalahnya, kita bisa mengambil jalan penyelesaian yang salah yang bisa berakibat fatal.
Contoh, suatu hari di kelas, pada saat pelajaran ekonomi, sewaktu SMA, guru kami sedang marah karena ada banyak siswa yang tidak mengerjakan soal. Sang guru geram. Ia lalu berkata dengan marah, “Ayoh, siapa yang tidak mengerjakan tugas, ke depan!”
Maka, satu persatu, teman-temanku yang tidak mengerjakan tugas maju ke depan. Dan, PLAK! PLAK! PLAK! Satu-persatu mereka ditampar. Lalu, jeda sejenak, tak ada lagi yang maju ke depan. “Ayoh, siapa lagi?” Ujarnya penuh amarah.
Seorang temanku yang ceking maju ke dekat si Bapak, dan… PLAK! “Kamu juga tidak mengerjakan tugas ya, eh?” Ujarnya geram penuh emosi.
“Tidak, Pak. Saya mengerjakan tugas. Saya ke sini mau minta izin ke belakang.” Temanku itu membela diri—walaupun terlambat!—sambil memegang pipinya yang baru saja ditampar.
“Oh,” ujar guruku malu. “Yaudah, silakan.”
Lihat, fatal bukan? Guruku mengambil ‘jalan penyelesaian’ tanpa melihat sudut pandang lain dari ‘masalah’ yang dihadapinya. Kami sekelas menahan tawa sambil menunduk.
Untuk menutupi rasa malu dan menjaga martabatnya di depan semua murid, guru kami itu kembali berujar dengan amarah, “Hayoh, siapa lagi yang merasa tidak mengerjakan tugas? Jangan sampai ada korban tidak bersalah seperti tadi! CEPAT!”
Tenggorokan kami kembali tercekat. Hmm, ayolah, Pak. Peace…. Haha.
Sabtu, 02 Oktober 2010
Teorema Akar dan Batang
Seringkali orang merasa sudah mencoba menyelesaikan masalahnya, tapi masalah itu datang dan datang dan datang lagi. Nggak pernah selesai. Apa yang salah? Apakah cara penyelesaiannya yang salah, apakah masalahnya sendiri yang memang sulit untuk diselesaikan? Atau….?
Seperti halnya ketika kamu menebang pohon. Jika kamu menebang batangnya, beberapa tahun kemudian, pohon itu akan tumbuh lagi. Kalau kulit kamu jamuran dan kamu hanya mengobati yang tampak dari luarnya saja, maka penyakit kamu tidak akan benar-benar sembuh.
Artinya?
Tepat sekali.
Kita harus memukan akar permasalahan kita. Karena hanya dengan mencerabuti akarnyalah, maka pohon itu tidak akan tumbuh lagi. Hanya dengan membasmi sampai ke akar-akarnya ‘lah, penyakit jamuran kamu tidak akan kambuh lagi (katakan padaku, apakah kalimat ini terdengar seperti sebuah iklan?).
Akar adalah inti masalah. Masalah itu sendiri. Sedangkan batang hanyalah efek dari masalah. Jika kamu menaruh perhatianmu hanya pada efek dari masalah, maka, bisa saja efeknya hilang, tapi masalahmu belum tentu bisa benar-benar selesai.
Contoh:
Secara keseluruhan tidak ada masalah dengan anak itu, kamu yakin akan hal itu. Dia cukup tampan untuk ukuran anak seumurannya. Yah, dengan pengecualian tubuhnya yang sedikit pendek, kamu pikir, tidak ada yang salah dengannya sampai harus terancam tidak naik kelas.
Oke, kamu tahu, dari wajahnya yang polos, dia bukan tipikal anak-anak remaja nggak punya kerjaan yang ngabisin waktunya dengan nongkrong di jalan, berkumpul, bergeng-geng, ngerokok, tawuran, atau malakin siswa lain. Kamu tahu, bahkan dari sekilas saja kamu melihat dia, dia bahkan tidak mampu untuk menyakiti dirinya sendiri.
Tapi dia sedikit minder. Ia tertutup. Dan ia sepertinya tidak menikmati kebersamaan dengan orang lain. Maksudmu, tentu saja, bukan karena ia anti sosial, tapi lebih karena ia nampaknya lebih suka menyendiri.
Dan sekarang, gurumu marah besar, karena ia, temanmu itu, adalah orang yang sulit diatur. Sikapnya yang cenderung apathis itu, yang tak memperlihatkan pemberontakan tapi juga tidak mau menurut itu, membuat gurumu bingung harus berbuat apa.
Apa yang harus kamu lakukan?
Kawan, dalam kasus anak yang kurang memahami pelajaran di kelas atau cenderung ‘bodoh’, beberapa guru yang pernah kujumpai cenderung memandangnya sebagai pembawaan si anak yang bodoh, bahwa si guru tidak salah dalam cara dia mengajar karena masih banyak siswa lain yang ternyata mampu menyerap pelajaran yang diberikannya.
Karena si guru merasa si anak itu bodoh, maka ia memberikan les privat gratis kepada anak itu, ia mendorong anak itu untuk belajar lebih baik. Ia bahkan membelikan kepada anak itu buku akselerasi belajar agar anak itu bisa lebih baik.
Beberapa minggu kemudian, si anak mulai kelihatan berubah—ooh, syukurlah! Tapi, sayangnya perubahan itu tidak bertahan lama, karena menjelang ujian semester, ia kembali menjadi dirinya yang terdahulu dan membuat nilai ujiannya sangat anjlok sehingga dia mendapat ancaman tidak naik kelas.
Bagaimana ini?
Kawan, guru di atas, yang aku ilustrasikan kepadamu, menyelesaikan masalah hanya sampai pada ‘permukaannya’, pada ‘batangnya’ saja. Dia tidak meluangkan waktu untuk meneliti akar dari masalah si anak.
Aku sangat terkesan oleh Bu Zajac, tokoh dalam novel non fiksi yang ditulis Tracy Kidder, pemenang Pulitzer prize—Kelas 205. Bu Zajac, ketika salah seorang muridnya mengalami kesulitan belajar, selain meluangkan waktu untuk memberi pelajaran tambahan dan perhatian yang lebih saat di kelas, ia juga meluangkan waktu untuk menyelidiki akar dari masalah si anak yang menyebabkannya sulit belajar.
Dari situ, dia akhirnya tahu, bahwa diantara siswanya yang sulit belajar, ada yang disebabkan oleh faktor lingkungan keluarganya yang tidak mendukung, lingkungan bermain yang buruk, dan trauma yang dialami si anak yang membuat perkembangan kedewasaan si anak terhambat.
Nah, kawan, bisa saja, kawanmu itu, si anak yang sulit belajar itu, yang minderan dan tidak suka keramaian itu, adalah seorang anak yang mengalami trauma di masa kecilnya. Mungkin orangtuanya bercerai dan dia mengalami siksaan dari salah seorang orangtuanya. Atau mungkin ia dibesarkan oleh keluarga yang terlalu menekannya sehingga dia merasa tak berharga, sehingga ia merasa minder, sehingga ia merasa terlalu ketakutan untuk mengungkapkan apa yang dia ingin ungkapkan. Sehingga, ketika rasa nyaman dan amannya tak terpenuhi, maka otak neo cortex-nya tidak bekerja dengan baik, sehingga dia sulit menyerap pelajaran.
Jika gurumu membantu si anak menyembuhkan luka batinnya, hasil yang mungkin didapatnya tentu akan lebih besar, daripada hanya menyelesaikan salah satu efek dari akar masalahnya saja, seperti misalnya, membantu si anak dengan memberinya les privat, bahkan gratis sekalipun—walau bukan berarti apa yang dilakukan gurumu itu sepenuhnya salah.
Ini, membawa kita sampai pada kesimpulan, bahwa masalah, seringkali merembes ke bidang lain dalam kehidupan kita. Masalah bisa terjadi di rumah, tapi bisa membawa efek dan mempengaruhi kehidupan kita di sekolah, di lingkungan luar rumah.
Jika kita menyelesaikan efeknya, maka inti masalahnya akan tetap ada, dan suatu saat, bisa kembali melahirkan efek masalah-efek masalah yang baru. Tapi, jika kamu mau arif, mau bijak mengakui masalahmu, dan langsung mencoba menyelesaikan masalahmu di rumah, maka peluang kamu untuk mendapatkan kembali kehidupan kamu di sekolah dan luar rumah dengan normal semakin besar.
Bagaimana cara menemukan akar masalah?
Ketika kamu mendapat masalah, jangan fokuskan pencarianmu terhadap efek dari masalah kamu, tapi lihatlah lebih jauh, lihatlah faktor yang menyebabkan masalahmu itu. Seperti contoh di atas: dari kasus anak sulit mengerti pelajaran di kelas, cobalah lihat lebih jauh lagi, analisis lebih jauh lagi, penyebab si anak tersebut sulit belajar, sehingga penyebab utama yang merupakan inti dari masalah itu bisa diketahui.
Tapi, sebagai bahan perbandingan, tidak semua sebab masalah adalah masalah inti. Contoh: masalah inti si anak itu adalah trauma masa kecil akibat perceraian orang tua. Nah, perceraian orangtua di sini bukanlah masalah inti tapi penyebab dari masalah inti si anak, yaitu trauma masa kecil akibat perceraian tersebut.
Jika kelihatannya sedikit rumit dan membingungkan, untuk mendapatkan dan mengetahui inti dari masalahmu, kamu bisa juga meminta saran kepada orang yang kamu pikir bisa memberimu saran. Kamu bisa curhat kepada orang yang kamu percayai. Tapi ini juga ada risikonya, ada aturannya, jadi teruskan membaca buku ini, oke? Hehe.
Seperti halnya ketika kamu menebang pohon. Jika kamu menebang batangnya, beberapa tahun kemudian, pohon itu akan tumbuh lagi. Kalau kulit kamu jamuran dan kamu hanya mengobati yang tampak dari luarnya saja, maka penyakit kamu tidak akan benar-benar sembuh.
Artinya?
Tepat sekali.
Kita harus memukan akar permasalahan kita. Karena hanya dengan mencerabuti akarnyalah, maka pohon itu tidak akan tumbuh lagi. Hanya dengan membasmi sampai ke akar-akarnya ‘lah, penyakit jamuran kamu tidak akan kambuh lagi (katakan padaku, apakah kalimat ini terdengar seperti sebuah iklan?).
Akar adalah inti masalah. Masalah itu sendiri. Sedangkan batang hanyalah efek dari masalah. Jika kamu menaruh perhatianmu hanya pada efek dari masalah, maka, bisa saja efeknya hilang, tapi masalahmu belum tentu bisa benar-benar selesai.
Contoh:
Secara keseluruhan tidak ada masalah dengan anak itu, kamu yakin akan hal itu. Dia cukup tampan untuk ukuran anak seumurannya. Yah, dengan pengecualian tubuhnya yang sedikit pendek, kamu pikir, tidak ada yang salah dengannya sampai harus terancam tidak naik kelas.
Oke, kamu tahu, dari wajahnya yang polos, dia bukan tipikal anak-anak remaja nggak punya kerjaan yang ngabisin waktunya dengan nongkrong di jalan, berkumpul, bergeng-geng, ngerokok, tawuran, atau malakin siswa lain. Kamu tahu, bahkan dari sekilas saja kamu melihat dia, dia bahkan tidak mampu untuk menyakiti dirinya sendiri.
Tapi dia sedikit minder. Ia tertutup. Dan ia sepertinya tidak menikmati kebersamaan dengan orang lain. Maksudmu, tentu saja, bukan karena ia anti sosial, tapi lebih karena ia nampaknya lebih suka menyendiri.
Dan sekarang, gurumu marah besar, karena ia, temanmu itu, adalah orang yang sulit diatur. Sikapnya yang cenderung apathis itu, yang tak memperlihatkan pemberontakan tapi juga tidak mau menurut itu, membuat gurumu bingung harus berbuat apa.
Apa yang harus kamu lakukan?
Kawan, dalam kasus anak yang kurang memahami pelajaran di kelas atau cenderung ‘bodoh’, beberapa guru yang pernah kujumpai cenderung memandangnya sebagai pembawaan si anak yang bodoh, bahwa si guru tidak salah dalam cara dia mengajar karena masih banyak siswa lain yang ternyata mampu menyerap pelajaran yang diberikannya.
Karena si guru merasa si anak itu bodoh, maka ia memberikan les privat gratis kepada anak itu, ia mendorong anak itu untuk belajar lebih baik. Ia bahkan membelikan kepada anak itu buku akselerasi belajar agar anak itu bisa lebih baik.
Beberapa minggu kemudian, si anak mulai kelihatan berubah—ooh, syukurlah! Tapi, sayangnya perubahan itu tidak bertahan lama, karena menjelang ujian semester, ia kembali menjadi dirinya yang terdahulu dan membuat nilai ujiannya sangat anjlok sehingga dia mendapat ancaman tidak naik kelas.
Bagaimana ini?
Kawan, guru di atas, yang aku ilustrasikan kepadamu, menyelesaikan masalah hanya sampai pada ‘permukaannya’, pada ‘batangnya’ saja. Dia tidak meluangkan waktu untuk meneliti akar dari masalah si anak.
Aku sangat terkesan oleh Bu Zajac, tokoh dalam novel non fiksi yang ditulis Tracy Kidder, pemenang Pulitzer prize—Kelas 205. Bu Zajac, ketika salah seorang muridnya mengalami kesulitan belajar, selain meluangkan waktu untuk memberi pelajaran tambahan dan perhatian yang lebih saat di kelas, ia juga meluangkan waktu untuk menyelidiki akar dari masalah si anak yang menyebabkannya sulit belajar.
Dari situ, dia akhirnya tahu, bahwa diantara siswanya yang sulit belajar, ada yang disebabkan oleh faktor lingkungan keluarganya yang tidak mendukung, lingkungan bermain yang buruk, dan trauma yang dialami si anak yang membuat perkembangan kedewasaan si anak terhambat.
Nah, kawan, bisa saja, kawanmu itu, si anak yang sulit belajar itu, yang minderan dan tidak suka keramaian itu, adalah seorang anak yang mengalami trauma di masa kecilnya. Mungkin orangtuanya bercerai dan dia mengalami siksaan dari salah seorang orangtuanya. Atau mungkin ia dibesarkan oleh keluarga yang terlalu menekannya sehingga dia merasa tak berharga, sehingga ia merasa minder, sehingga ia merasa terlalu ketakutan untuk mengungkapkan apa yang dia ingin ungkapkan. Sehingga, ketika rasa nyaman dan amannya tak terpenuhi, maka otak neo cortex-nya tidak bekerja dengan baik, sehingga dia sulit menyerap pelajaran.
Jika gurumu membantu si anak menyembuhkan luka batinnya, hasil yang mungkin didapatnya tentu akan lebih besar, daripada hanya menyelesaikan salah satu efek dari akar masalahnya saja, seperti misalnya, membantu si anak dengan memberinya les privat, bahkan gratis sekalipun—walau bukan berarti apa yang dilakukan gurumu itu sepenuhnya salah.
Ini, membawa kita sampai pada kesimpulan, bahwa masalah, seringkali merembes ke bidang lain dalam kehidupan kita. Masalah bisa terjadi di rumah, tapi bisa membawa efek dan mempengaruhi kehidupan kita di sekolah, di lingkungan luar rumah.
Jika kita menyelesaikan efeknya, maka inti masalahnya akan tetap ada, dan suatu saat, bisa kembali melahirkan efek masalah-efek masalah yang baru. Tapi, jika kamu mau arif, mau bijak mengakui masalahmu, dan langsung mencoba menyelesaikan masalahmu di rumah, maka peluang kamu untuk mendapatkan kembali kehidupan kamu di sekolah dan luar rumah dengan normal semakin besar.
Bagaimana cara menemukan akar masalah?
Ketika kamu mendapat masalah, jangan fokuskan pencarianmu terhadap efek dari masalah kamu, tapi lihatlah lebih jauh, lihatlah faktor yang menyebabkan masalahmu itu. Seperti contoh di atas: dari kasus anak sulit mengerti pelajaran di kelas, cobalah lihat lebih jauh lagi, analisis lebih jauh lagi, penyebab si anak tersebut sulit belajar, sehingga penyebab utama yang merupakan inti dari masalah itu bisa diketahui.
Tapi, sebagai bahan perbandingan, tidak semua sebab masalah adalah masalah inti. Contoh: masalah inti si anak itu adalah trauma masa kecil akibat perceraian orang tua. Nah, perceraian orangtua di sini bukanlah masalah inti tapi penyebab dari masalah inti si anak, yaitu trauma masa kecil akibat perceraian tersebut.
Jika kelihatannya sedikit rumit dan membingungkan, untuk mendapatkan dan mengetahui inti dari masalahmu, kamu bisa juga meminta saran kepada orang yang kamu pikir bisa memberimu saran. Kamu bisa curhat kepada orang yang kamu percayai. Tapi ini juga ada risikonya, ada aturannya, jadi teruskan membaca buku ini, oke? Hehe.
Setengah Selesai, Setengah (Lagi) Usahakan
Katanya sih ya, tapi nggak tahu juga sih, anak-anak remaja itu sering ngalamin yang namanya bĂȘte tanpa sebab. Mereka berubah mood dengan sangat drastis bahkan tanpa adanya impuls dari luar sekalipun. Atau seringkali impuls yang kecil mendorong perubahan mood yang drastis, benarkah? Mari kita tanya Galileo. Hehe.
Aku pernah mengalami hal-hal seperti itu: kesal tanpa sebab, murung tanpa sebab, lelah tanpa adanya konflik sebelumnya. Dan kebingungan itu membuat masalahku terlihat, yah, sedikit rumit. Kadang ada kebanggan juga ketika membiarkan orang lain tahu kalau kita sedang bad mood. Aku nggak tahu itu namanya apa. Barangkali seperti itulah keanehan-keanehan dari tingkahpolah masa muda. Ceilah masa muda.
Tapi ketiadaan sebab itu bukan berarti apa yang kita rasakan tidak ada sebabnya sama sekali. Justru dengan ketiadaan itulah masalah kita jadi ada sebabnya. Sebabnya adalah ketiadaan sebab itu sendiri.
Apa penting mengetahui hal itu?
Kawan, mengetahui permasalahan yang kita hadapi, sudah merupakan setengah dari penyelesaian masalah tersebut. Banyak orang yang merasa kesal terhadap masalah yang dia hadapi karena ia sebenarnya tidak tahu apa masalah dia sebenarnya. Ia terkurung di dalamnya, tanpa tahu apa sebenarnya yang sedang mengurungnya. Kalau ia sendiri tidak tahu apa yang sedang mengurungnya, bagaimana mungkin ia bisa keluar?
Kamu mendapat nilai merah untuk ujian kamu dan itu membuatmu kaget. Kamu bertanya kepada gurumu kenapa nilai kamu merah dan gurumu tidak mau menjelaskan. Apa yang akan kamu rasakan?
“Aku hanya ingin tahu kenapa aku bisa mendapat nilai 4 sehingga aku tahu mana yang harus aku perbaiki!”
Tepat sekali.
Jika gurumu itu dengan senang hati saja memperlihatkan bagaimana tugas-tugas kamu jarang masuk, absensi kamu yang buruk, ujian kamu yang anjlok, maka kamu akan lebih lega karena pada akhirnya kamu tahu dimana letak kesalahanmu.
Jika ternyata kamu merasa penilaian yang dilakukan gurumu salah, kamu bisa meminta data hasil ujian kamu, sebagai bukti yang valid, agar kamu bisa yakin bahwa apa yang dikatakan gurumu benar.
Sekarang mari kita anggap gurumu benar.
Orang yang tidak tahu ‘bagaimana’ dia bisa mendapat 4, mungkin cenderung bersikap tak acuh, marah, bahkan antipati dan menjadi apatis. Dia merasa kesal karena merasa ‘dicurangi’ walaupun ia tidak pernah bisa membuktikannya. Itu karena ia tidak tahu akar permasalahannya.
Sedangkan orang yang tahu, dan ditambah sedikit saja sikap arif dan legowo, dia bisa lebih memperbaiki nilainya di semester berikutnya, karena ia tahu apa yang salah, dan ia tahu mana yang harus diperbaiki.
Kupikir contoh sederhana lain yang ingin aku tambahkan di sini adalah saat seorang tukang membetulkan genteng yang rusak. Tentu akan lebih cepat tukang yang ‘tahu’ genteng mana yang rusak, ‘tahu’ bagaimana kerusakannya dan akibat-akibatnya, dan ‘tahu’ cara memperbaikinya, daripada seorang tukang yang bahkan ketika ia sudah sampai di genteng, belum tahu dimana genteng yang rusak itu.
Bagaimana caranya mengetahui masalah kita?
1. Kamu bisa mengandalkan kemampuan diri kamu sendiri dalam melihat sendiri apa masalahmu dengan melakukan analisa terhadap kekalutan atau kepusingan yang kamu alamin—memanfaatkan kecerdasan intrapersonalmu sendiri.
2. Kamu bisa minta bantuan orang lain yang kamu percayai untuk menemukan apa yang sebenarnya jadi masalahmu melalui curhat atau share.
3. Tapi, tetap hati-hati juga sih, soalnya baik itu pantauan diri sendiri (poin 1) maupun bantuan dari orang lain (poin 2), bisa saja tidak sepenuhnya menyentuh inti dari permasalahanmu. Karena itulah kamu tetap butuh cek dan ricek, uji hasil pantauan dan bantuan dari orang lain tersebut, disesuaikan dengan efek yang kamu rasakan. Dan jangan lupa, tetap… berdoa! Karena hanya Dialah Sumber Segala Kebenaran dan Petunjuk.
Aku pernah mengalami hal-hal seperti itu: kesal tanpa sebab, murung tanpa sebab, lelah tanpa adanya konflik sebelumnya. Dan kebingungan itu membuat masalahku terlihat, yah, sedikit rumit. Kadang ada kebanggan juga ketika membiarkan orang lain tahu kalau kita sedang bad mood. Aku nggak tahu itu namanya apa. Barangkali seperti itulah keanehan-keanehan dari tingkahpolah masa muda. Ceilah masa muda.
Tapi ketiadaan sebab itu bukan berarti apa yang kita rasakan tidak ada sebabnya sama sekali. Justru dengan ketiadaan itulah masalah kita jadi ada sebabnya. Sebabnya adalah ketiadaan sebab itu sendiri.
Apa penting mengetahui hal itu?
Kawan, mengetahui permasalahan yang kita hadapi, sudah merupakan setengah dari penyelesaian masalah tersebut. Banyak orang yang merasa kesal terhadap masalah yang dia hadapi karena ia sebenarnya tidak tahu apa masalah dia sebenarnya. Ia terkurung di dalamnya, tanpa tahu apa sebenarnya yang sedang mengurungnya. Kalau ia sendiri tidak tahu apa yang sedang mengurungnya, bagaimana mungkin ia bisa keluar?
Kamu mendapat nilai merah untuk ujian kamu dan itu membuatmu kaget. Kamu bertanya kepada gurumu kenapa nilai kamu merah dan gurumu tidak mau menjelaskan. Apa yang akan kamu rasakan?
“Aku hanya ingin tahu kenapa aku bisa mendapat nilai 4 sehingga aku tahu mana yang harus aku perbaiki!”
Tepat sekali.
Jika gurumu itu dengan senang hati saja memperlihatkan bagaimana tugas-tugas kamu jarang masuk, absensi kamu yang buruk, ujian kamu yang anjlok, maka kamu akan lebih lega karena pada akhirnya kamu tahu dimana letak kesalahanmu.
Jika ternyata kamu merasa penilaian yang dilakukan gurumu salah, kamu bisa meminta data hasil ujian kamu, sebagai bukti yang valid, agar kamu bisa yakin bahwa apa yang dikatakan gurumu benar.
Sekarang mari kita anggap gurumu benar.
Orang yang tidak tahu ‘bagaimana’ dia bisa mendapat 4, mungkin cenderung bersikap tak acuh, marah, bahkan antipati dan menjadi apatis. Dia merasa kesal karena merasa ‘dicurangi’ walaupun ia tidak pernah bisa membuktikannya. Itu karena ia tidak tahu akar permasalahannya.
Sedangkan orang yang tahu, dan ditambah sedikit saja sikap arif dan legowo, dia bisa lebih memperbaiki nilainya di semester berikutnya, karena ia tahu apa yang salah, dan ia tahu mana yang harus diperbaiki.
Kupikir contoh sederhana lain yang ingin aku tambahkan di sini adalah saat seorang tukang membetulkan genteng yang rusak. Tentu akan lebih cepat tukang yang ‘tahu’ genteng mana yang rusak, ‘tahu’ bagaimana kerusakannya dan akibat-akibatnya, dan ‘tahu’ cara memperbaikinya, daripada seorang tukang yang bahkan ketika ia sudah sampai di genteng, belum tahu dimana genteng yang rusak itu.
Bagaimana caranya mengetahui masalah kita?
1. Kamu bisa mengandalkan kemampuan diri kamu sendiri dalam melihat sendiri apa masalahmu dengan melakukan analisa terhadap kekalutan atau kepusingan yang kamu alamin—memanfaatkan kecerdasan intrapersonalmu sendiri.
2. Kamu bisa minta bantuan orang lain yang kamu percayai untuk menemukan apa yang sebenarnya jadi masalahmu melalui curhat atau share.
3. Tapi, tetap hati-hati juga sih, soalnya baik itu pantauan diri sendiri (poin 1) maupun bantuan dari orang lain (poin 2), bisa saja tidak sepenuhnya menyentuh inti dari permasalahanmu. Karena itulah kamu tetap butuh cek dan ricek, uji hasil pantauan dan bantuan dari orang lain tersebut, disesuaikan dengan efek yang kamu rasakan. Dan jangan lupa, tetap… berdoa! Karena hanya Dialah Sumber Segala Kebenaran dan Petunjuk.
Seperti Hantu
Sepulang dari sekolah, dengan beban di kepala yang begitu banyak, aku melemparkan diriku ke kasur dan merasa kesal terhadap semua hal. Kamar tiba-tiba terasa sempit, keningku berdenyut-denyut tiada henti. Nafasku sedikit sesak. Aku benar-benar tak tahan!
Setelah rebahan beberapa saat akhirnya aku memutuskan untuk berdiri dan sambil menunjuk ke kasur, aku bicara sendiri, “Oke, sudah cukup. Sekarang, ayo kita selesaikan masalah ini.”
Aku membuka buku catatanku dan menuliskan masalah-masalah yang sedang kuhadapi secara sekaligus saat itu: tugas di sekolah numpuk, komputerku rusak, aku juga belum mempersiapkan untuk acara perlombaan di sekolah besok.
Ha!
Apalagi?
Tidak ada.
Aku tertawa-tawa sendirian saat itu, mendapati diriku begitu tolol—hanya seperti inikah? Aku menuliskan dari tiap masalahku itu penjelasan-penjelasan seperti: tugas matematika dikumpulin besok, tugas ini bisa dicancel dulu, tugas bahasa Indonesia tinggal diperiksa ulang. Komputer? Aku bisa ngetik untuk ini di rentalan. Atau aku bisa nunggu sampai komputer selesai diperbaiki. Ngomong-ngomong dimana aku akan memperbaiki komputerku ini? Hmm, di tetanggaku bisa, di sini bisa, di sana bisa. Yups, untuk lomba besok? Oke, seragam. Apalagi? Hmm, baiklah, mana yang harus aku prioritaskan….
Tidak kurang dari 15 menit malam itu suasana hatiku berubah 180 derajat—dan aku bersyukur untuk hal itu. Ternyata, masalah itu, seringkali seperti hantu. Masalah bisa saja sepele, tapi kita sendirilah yang mempersulitnya. Membuat masalah itu terlihat sangat rumit dan susah dipecahkan. Bukankah hantu juga seperti itu?
Well, tanpa mengesampingkan kenyataan bahwa aku termasuk orang yang, yah, agak malu kalau ketemu hantu, tapi aku mau mengakui bahwa ketakutan akan hantu seringkali lebih menakutkan daripada hantu itu sendiri.
Sebenarnya, rasa takut kita itulah yang justru membuat keluarga hantu (mulai dari yang produk lokal seperti pocong, kuntilanak, genderuwo, dan lain-lain sampai yang produk asing seperti drakula dan vampir) tampak menakutkan.
Begitupun dalam hal menghadapi masalah. Rasa kesal kita, bĂȘte kita, dan pusing kita itulah yang justru membuat masalah kelihatan terlalu rumit dan sukar untuk bisa diselesaikan.
Jika kamu punya beberapa macam tugas yang deadline-nya berbarengan, kamu kadang dibuat stres dan tergesa-gesa oleh keharusan menyelesaikan tugas-tugasmu itu, sehingga yang terjadi biasanya:
1. Kamu bisa menyelesaikan semuanya! (Congratulation!)
2. Kamu menyelesaikan salah satu atau sebagian dari tugas-tugasmu.
3. Kamu tidak bisa menyelesaikan satu pun tugas itu sesuai deadline.
Mari kita beri selamat dan tepuk tangan bagi golongan satu yang telah menyelesaikan tugasnya dengan baik—dan silakan pindah ke sebelah kanan. Dan sekarang, mari kita maafkan orang yang termasuk golongan dua (dan beri ucapan selamat pula karena ia memiliki tekad dan usaha untuk menyelesaikan tugasnya)—dan silakan pindah ke sebelah kiri.
Nah, bagi kamu yang berada di tengah, golongan orang-orang yang tidak bisa menyelesaikan satu pun tugas, beri aku kesempatan menyampaikan beberapa hal ini kepadamu:
1. Usahakan tetap rileks dan jangan tegang. Karena kalau tegang, otak neo cortex (bagian otak yang digunakan untuk berpikir) kamu tidak akan bisa bekerja dengan optimal. Kalau kerjanya tidak optimal, hasilnya pun tentu tidak akan optimal—mari kita berharap hasilnya masih cukup memuaskan.
2. Ambil buku dan tulis semua tugasmu itu beserta deadline-nya.
3. Tuliskan pula hal-hal yang kamu butuhkan untuk tugas itu, hal-hal yang bisa menunjang tugasmu itu, dan hambatan tugasmu itu.
4. Sinkronkan (sesuaikan) dengan situasi, singkronkan dengan batas deadline, sinkronkan dengan segala macam hal, lalu buatlah prioritas. Beri poin 1, 2, 3, dan seterusnya untuk menandai prioritas.
5. Sekarang, kerjakan tugas-tugasmu itu sesuai prioritas!
6. Ketika mengerjakan, usahakan tetap tenang, tetap dinikmati, karena jikapun kamu tidak bisa menyelesaikan semua tugasmu, paling tidak, kamu tengah mengalihkan posisimu dari golongan tiga (yang tak menyelesaikan satupun tugas) ke posisi dua (yang mengerjakan salah satu tugas). Dan itu lebih baik bukan?
Setelah rebahan beberapa saat akhirnya aku memutuskan untuk berdiri dan sambil menunjuk ke kasur, aku bicara sendiri, “Oke, sudah cukup. Sekarang, ayo kita selesaikan masalah ini.”
Aku membuka buku catatanku dan menuliskan masalah-masalah yang sedang kuhadapi secara sekaligus saat itu: tugas di sekolah numpuk, komputerku rusak, aku juga belum mempersiapkan untuk acara perlombaan di sekolah besok.
Ha!
Apalagi?
Tidak ada.
Aku tertawa-tawa sendirian saat itu, mendapati diriku begitu tolol—hanya seperti inikah? Aku menuliskan dari tiap masalahku itu penjelasan-penjelasan seperti: tugas matematika dikumpulin besok, tugas ini bisa dicancel dulu, tugas bahasa Indonesia tinggal diperiksa ulang. Komputer? Aku bisa ngetik untuk ini di rentalan. Atau aku bisa nunggu sampai komputer selesai diperbaiki. Ngomong-ngomong dimana aku akan memperbaiki komputerku ini? Hmm, di tetanggaku bisa, di sini bisa, di sana bisa. Yups, untuk lomba besok? Oke, seragam. Apalagi? Hmm, baiklah, mana yang harus aku prioritaskan….
Tidak kurang dari 15 menit malam itu suasana hatiku berubah 180 derajat—dan aku bersyukur untuk hal itu. Ternyata, masalah itu, seringkali seperti hantu. Masalah bisa saja sepele, tapi kita sendirilah yang mempersulitnya. Membuat masalah itu terlihat sangat rumit dan susah dipecahkan. Bukankah hantu juga seperti itu?
Well, tanpa mengesampingkan kenyataan bahwa aku termasuk orang yang, yah, agak malu kalau ketemu hantu, tapi aku mau mengakui bahwa ketakutan akan hantu seringkali lebih menakutkan daripada hantu itu sendiri.
Sebenarnya, rasa takut kita itulah yang justru membuat keluarga hantu (mulai dari yang produk lokal seperti pocong, kuntilanak, genderuwo, dan lain-lain sampai yang produk asing seperti drakula dan vampir) tampak menakutkan.
Begitupun dalam hal menghadapi masalah. Rasa kesal kita, bĂȘte kita, dan pusing kita itulah yang justru membuat masalah kelihatan terlalu rumit dan sukar untuk bisa diselesaikan.
Jika kamu punya beberapa macam tugas yang deadline-nya berbarengan, kamu kadang dibuat stres dan tergesa-gesa oleh keharusan menyelesaikan tugas-tugasmu itu, sehingga yang terjadi biasanya:
1. Kamu bisa menyelesaikan semuanya! (Congratulation!)
2. Kamu menyelesaikan salah satu atau sebagian dari tugas-tugasmu.
3. Kamu tidak bisa menyelesaikan satu pun tugas itu sesuai deadline.
Mari kita beri selamat dan tepuk tangan bagi golongan satu yang telah menyelesaikan tugasnya dengan baik—dan silakan pindah ke sebelah kanan. Dan sekarang, mari kita maafkan orang yang termasuk golongan dua (dan beri ucapan selamat pula karena ia memiliki tekad dan usaha untuk menyelesaikan tugasnya)—dan silakan pindah ke sebelah kiri.
Nah, bagi kamu yang berada di tengah, golongan orang-orang yang tidak bisa menyelesaikan satu pun tugas, beri aku kesempatan menyampaikan beberapa hal ini kepadamu:
1. Usahakan tetap rileks dan jangan tegang. Karena kalau tegang, otak neo cortex (bagian otak yang digunakan untuk berpikir) kamu tidak akan bisa bekerja dengan optimal. Kalau kerjanya tidak optimal, hasilnya pun tentu tidak akan optimal—mari kita berharap hasilnya masih cukup memuaskan.
2. Ambil buku dan tulis semua tugasmu itu beserta deadline-nya.
3. Tuliskan pula hal-hal yang kamu butuhkan untuk tugas itu, hal-hal yang bisa menunjang tugasmu itu, dan hambatan tugasmu itu.
4. Sinkronkan (sesuaikan) dengan situasi, singkronkan dengan batas deadline, sinkronkan dengan segala macam hal, lalu buatlah prioritas. Beri poin 1, 2, 3, dan seterusnya untuk menandai prioritas.
5. Sekarang, kerjakan tugas-tugasmu itu sesuai prioritas!
6. Ketika mengerjakan, usahakan tetap tenang, tetap dinikmati, karena jikapun kamu tidak bisa menyelesaikan semua tugasmu, paling tidak, kamu tengah mengalihkan posisimu dari golongan tiga (yang tak menyelesaikan satupun tugas) ke posisi dua (yang mengerjakan salah satu tugas). Dan itu lebih baik bukan?
Just Relax
Tentu saja ini jadi terasa sangat melelahkan. Benar-benar melelahkan. Jika waktu shalat tiba, suatu perasaan kesal segera saja hinggap, dan aku menjadi malas untuk shalat.
Kisah ini dimulai dari gejala penyakit was-was yang cukup akut yang mengangguku. Pada saat itu, setiap kali wudlu, aku sering dihinggapi ketakutan yang berlebihan kalau-kalau wudluku tidak akan diterima, tidak akan sah.
Segala macam hipotesa yang coba aku jelaskan kepada diriku sendiri—bahwa menurut ilmu fiqih yang kupahami, wudluku sudah cukup, sudah sah. Tapi tetap saja ‘sebagian diriku yang lain’ tidak mau menurut. Dan selalu, aku harus merasa bahwa wudluku tidak sah, yang tidak jarang membuatku harus mengulang dan mengulangi lagi wudluku. Berkali-kali. Membuatku basah kuyup.
Jika ini terjadi sekali, okelah, mungkin masih bisa ditolerir. Tapi jika ini terjadi setiap hari, setiap kali waktu shalat, maka semakin lama, ini semakin merepotkan. Gejala ini segera saja mulai melebar, mulai dari niat shalat yang jadi terasa susah, sehingga aku harus berulang-ulang kali mengulangi niat, dan seringkali dibuat kesal, karena untuk wudlu dan niat shalat saja aku harus menghabiskan waktu sampai 15 menit bahkan mungkin 30 menit. Sedangkan shalatnya sendiri paling cuma 5 menit!
Tentu saja ini menjadi terasa sangat melelahkan secara psikologis. Secara mental. Apalagi jika sedang berada dalam kondisi tegang, maka yang aku rasakan biasanya lebih parah lagi. Ini membuat jantungku sedikit berdetak tak normal. Ini disebut gejala obsesif kompulsif. Aku terobsesi pada pikiran bahwa wudluku tidak sah yang memaksaku untuk mengulang dan mengulangi lagi wudluku, hingga berkali-kali.
Ini adalah masalah bagiku dan aku harus menyelesaikannya!
Tapi semakin aku coba menyelesaikannya, semakin parahlah aku jadinya.
Suatu penyelesaian yang akhirnya ampuh membebaskanku dari penderitaan itu adalah hal ini: penerimaan diri dan relax. Jika saat wudlu aku was-was apakah wudluku sah atau tidak, aku serahkan pada Allah yang Maha Tahu bahwa aku sedang menderita was-was dan karenanya Dia pasti memaklumi bahwa aku sedang berusaha untuk menghilangkan penyakit ini dengan mengabaikan ketakutanku itu.
Jika ketika shalat, aku merasa shalatku tidak sah, dan secara fikih jika kita merasa shalat kita tidak sah, maka shalat kita batal, aku akan kembali menyerahkannya kepada Allah yang Maha Tahu bahwa aku sedang menderita was-was, sehingga Dia pasti Mengerti bahwa aku tetap melanjutkan shalat walau dengan hati yang kacau akibat merasa tidak sah semata-mata dalam rangka mengobati penyakitku.
Kesadaran itu, penyerahan itu, pengakuan dan penerimaan diri itu, dan ketenangan itu, membantuku melewati masa-masa itu yang berganti dengan masa-masa shalat penuh ketenangan dan rasa nyaman.
Jadi, kawanku, berpijak pada pandangan kawanmu yang aneh ini, marilah kita sama-sama menyepakati bahwa: ketenangan saat berada dalam tekanan, saat berada di bawah cengkeraman masalah, lebih membantu kita berpikir jernih dalam mencari alternatif penyelesaian masalah yang terbaik—sehingga masalah bisa lebih cepat diselesaikan; sedangkan kegalauan, kekalutan saat berada dalam tekanan, saat berada di bawah cengkeraman masalah justru membuat masalah kita jadi bertambah rumit dan rumit dan rumit lagi, karena jangankan mencari alternatif penyelesaian, mencari apa masalahnya sendiri akan terasa sulit. Setuju?
Baiklah, sedikit contoh: orang yang belum mengerjakan PR di rumah dan mengerjakannya di pagi hari beberapa menit sebelum masuk kelas (sambil mencontek), cenderung menjadi orang yang tegang dan terburu-buru. Akibatnya, dia mencontek sekenanya, dan tak jarang malah justru membuat jawabannya sangat salah—ah, tahu sendiri ‘lah, gimana rasanya, hahaha.
Kisah ini dimulai dari gejala penyakit was-was yang cukup akut yang mengangguku. Pada saat itu, setiap kali wudlu, aku sering dihinggapi ketakutan yang berlebihan kalau-kalau wudluku tidak akan diterima, tidak akan sah.
Segala macam hipotesa yang coba aku jelaskan kepada diriku sendiri—bahwa menurut ilmu fiqih yang kupahami, wudluku sudah cukup, sudah sah. Tapi tetap saja ‘sebagian diriku yang lain’ tidak mau menurut. Dan selalu, aku harus merasa bahwa wudluku tidak sah, yang tidak jarang membuatku harus mengulang dan mengulangi lagi wudluku. Berkali-kali. Membuatku basah kuyup.
Jika ini terjadi sekali, okelah, mungkin masih bisa ditolerir. Tapi jika ini terjadi setiap hari, setiap kali waktu shalat, maka semakin lama, ini semakin merepotkan. Gejala ini segera saja mulai melebar, mulai dari niat shalat yang jadi terasa susah, sehingga aku harus berulang-ulang kali mengulangi niat, dan seringkali dibuat kesal, karena untuk wudlu dan niat shalat saja aku harus menghabiskan waktu sampai 15 menit bahkan mungkin 30 menit. Sedangkan shalatnya sendiri paling cuma 5 menit!
Tentu saja ini menjadi terasa sangat melelahkan secara psikologis. Secara mental. Apalagi jika sedang berada dalam kondisi tegang, maka yang aku rasakan biasanya lebih parah lagi. Ini membuat jantungku sedikit berdetak tak normal. Ini disebut gejala obsesif kompulsif. Aku terobsesi pada pikiran bahwa wudluku tidak sah yang memaksaku untuk mengulang dan mengulangi lagi wudluku, hingga berkali-kali.
Ini adalah masalah bagiku dan aku harus menyelesaikannya!
Tapi semakin aku coba menyelesaikannya, semakin parahlah aku jadinya.
Suatu penyelesaian yang akhirnya ampuh membebaskanku dari penderitaan itu adalah hal ini: penerimaan diri dan relax. Jika saat wudlu aku was-was apakah wudluku sah atau tidak, aku serahkan pada Allah yang Maha Tahu bahwa aku sedang menderita was-was dan karenanya Dia pasti memaklumi bahwa aku sedang berusaha untuk menghilangkan penyakit ini dengan mengabaikan ketakutanku itu.
Jika ketika shalat, aku merasa shalatku tidak sah, dan secara fikih jika kita merasa shalat kita tidak sah, maka shalat kita batal, aku akan kembali menyerahkannya kepada Allah yang Maha Tahu bahwa aku sedang menderita was-was, sehingga Dia pasti Mengerti bahwa aku tetap melanjutkan shalat walau dengan hati yang kacau akibat merasa tidak sah semata-mata dalam rangka mengobati penyakitku.
Kesadaran itu, penyerahan itu, pengakuan dan penerimaan diri itu, dan ketenangan itu, membantuku melewati masa-masa itu yang berganti dengan masa-masa shalat penuh ketenangan dan rasa nyaman.
Jadi, kawanku, berpijak pada pandangan kawanmu yang aneh ini, marilah kita sama-sama menyepakati bahwa: ketenangan saat berada dalam tekanan, saat berada di bawah cengkeraman masalah, lebih membantu kita berpikir jernih dalam mencari alternatif penyelesaian masalah yang terbaik—sehingga masalah bisa lebih cepat diselesaikan; sedangkan kegalauan, kekalutan saat berada dalam tekanan, saat berada di bawah cengkeraman masalah justru membuat masalah kita jadi bertambah rumit dan rumit dan rumit lagi, karena jangankan mencari alternatif penyelesaian, mencari apa masalahnya sendiri akan terasa sulit. Setuju?
Baiklah, sedikit contoh: orang yang belum mengerjakan PR di rumah dan mengerjakannya di pagi hari beberapa menit sebelum masuk kelas (sambil mencontek), cenderung menjadi orang yang tegang dan terburu-buru. Akibatnya, dia mencontek sekenanya, dan tak jarang malah justru membuat jawabannya sangat salah—ah, tahu sendiri ‘lah, gimana rasanya, hahaha.
Tuan Detektif
Aku menjalani masa-masa SMA, terlebih ketika kelas 1 dan 2 sebagai orang yang, yah, sedikit agak penting mungkin, lantaran menjabat sebagai ketua angkatan sebuah ekstrakurikuler. Aku menjadi orang nomor 1 di kalangan anggota kelas 1 di ekstrakurikuler tersebut, dan karenanya sering dijadikan tumbal oleh teman-temanku sesering dijadikan ‘pelampiasan’ oleh kakak-kakak tingkatku.
Tanggungjawab utama jabatanku itu kurang lebih untuk mempertahankan anggota agar mereka tidak keluar. Dan jangan dikira ini mudah. Aku harus belajar untuk membujuk teman-temanku yang berniat keluar yang jumlahnya cukup tinggi—hampir setengahnya!
Mau tidak mau, aku belajar untuk menjadi seorang pendengar keluhan yang baik, aku belajar untuk menjadi seorang yang peduli, aku belajar untuk menjadi seorang problem solver, aku belajar menjadi seorang perayu ulung. Dan setiap kali aku berusaha membujuk mereka, aku mendapati bahwa aku sedang membujuk diriku sendiri. Bahwa aku sebenarnya bukan sedang ‘menyembuhkan’ teman-temanku tapi sedang ‘menyembuhkan’ diriku sendiri.
Tapi pada saat-saat tertentu, aku, dengan segala keterbatasanku, sering merasa lelah, merasa tak kuat lagi. Merasa tak berdaya. Aku tak tahan lagi harus mengurusi teman-temanku yang rese dan sulit diatur. Aku tak tahan lagi harus (pura-pura) peduli pada keluh kesah mereka dan alasan kenapa mereka mau keluar dari ekskul tersebut. Aku tak mau terikat oleh aturan-aturan semacam ini lagi.
Aku stuck!
Tapi sebentar, mari kita lihat kondisi ini dari sisi lain. Apa semua tugas ini membebani dan menjadi masalah bagimu? Ya, benar. Baiklah, mari kita ubah sudut pandangnya. Setujukah?
Tentu saja.
Bagaimana kalau kita anggap setiap masalah yang kamu hadapi adalah sebuah kasus. Dan kamu adalah seorang detektif yang dipercaya untuk memecahkan kasus tersebut—hebat bukan?
Apa bedanya dengan menganggap masalah sebagai masalah saja?
Biarkan aku yang menjelaskan.
Ketika kita menganggap suatu masalah sebagai suatu kasus dan kita menempatkan diri kita sebagai seorang detektif yang hebat yang akan mampu memecahkan kasus tersebut, maka akan timbul keyakinan dan rasa nyaman dalam diri kita saat berusaha menyelesaikan masalah tersebut. Akan ada gairah dan semangat untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Ketika ada gairah dan semangat maka peluang untuk menyelesaikan masalah dengan lebih baik pun menjadi lebih besar. Jika masalah itu, anggap saja bisa selesai dengan baik, maka ini akan menambah rasa percaya dirimu dan daya tahanmu jika kelak kamu menghadapi masalah-masalah lain yang serupa atau bahkan lebih besar daripada masalah tersebut. Bukankah seperti kata Nietszhe, apa yang tidak membunuh kita akan membuat kita lebih kuat?
Ketika kamu memposisikan diri kamu sebagai detektif dalam kasusmu ini, kamu menempatkan dirimu sebagai pemeran utama yang bisa mengubah ending dari film yang sedang kamu jalani. Kamu berubah menjadi orang penting yang harus diperhitungkan. Ketika kamu merasa seperti ini, maka kamu akan dapat menguasai masalah dan bukannya dikuasai oleh masalah.
Bagaimana dengan menempatkan masalah sebagai masalah?
Baiklah, seperti ini teorinya: jika merujuk pada ceritamu di atas, ketika kamu menempatkan masalah sebagai masalah, kamu sedang menempatkan dirimu sebagai korban dari masalahmu. Ketika kamu menempatkan dirimu sebagai korban, maka masalah kamu jadi bertambah: (1) masalah utama yang kamu hadapi, dan (2) efek ketidakyakinan dalam dirimu untuk menyelesaikan masalah karena kamu merasa sebagai korban. Akibatnya, kamu akan terus bergelung dalam masalah itu. Kamu mungkin bisa bertahan, tapi kamu jadi tidak akan ikhlas dan sering mengeluh dengan kondisimu. Kamu akan merasa tercekik di lingkaran setan yang tiada berujung. Ini akan membuatmu tambah tersiksa. Maka masalahnya menjadi berpangkat dua atau bahkan tiga—empat?—hiiih, males deh.
Tanggungjawab utama jabatanku itu kurang lebih untuk mempertahankan anggota agar mereka tidak keluar. Dan jangan dikira ini mudah. Aku harus belajar untuk membujuk teman-temanku yang berniat keluar yang jumlahnya cukup tinggi—hampir setengahnya!
Mau tidak mau, aku belajar untuk menjadi seorang pendengar keluhan yang baik, aku belajar untuk menjadi seorang yang peduli, aku belajar untuk menjadi seorang problem solver, aku belajar menjadi seorang perayu ulung. Dan setiap kali aku berusaha membujuk mereka, aku mendapati bahwa aku sedang membujuk diriku sendiri. Bahwa aku sebenarnya bukan sedang ‘menyembuhkan’ teman-temanku tapi sedang ‘menyembuhkan’ diriku sendiri.
Tapi pada saat-saat tertentu, aku, dengan segala keterbatasanku, sering merasa lelah, merasa tak kuat lagi. Merasa tak berdaya. Aku tak tahan lagi harus mengurusi teman-temanku yang rese dan sulit diatur. Aku tak tahan lagi harus (pura-pura) peduli pada keluh kesah mereka dan alasan kenapa mereka mau keluar dari ekskul tersebut. Aku tak mau terikat oleh aturan-aturan semacam ini lagi.
Aku stuck!
Tapi sebentar, mari kita lihat kondisi ini dari sisi lain. Apa semua tugas ini membebani dan menjadi masalah bagimu? Ya, benar. Baiklah, mari kita ubah sudut pandangnya. Setujukah?
Tentu saja.
Bagaimana kalau kita anggap setiap masalah yang kamu hadapi adalah sebuah kasus. Dan kamu adalah seorang detektif yang dipercaya untuk memecahkan kasus tersebut—hebat bukan?
Apa bedanya dengan menganggap masalah sebagai masalah saja?
Biarkan aku yang menjelaskan.
Ketika kita menganggap suatu masalah sebagai suatu kasus dan kita menempatkan diri kita sebagai seorang detektif yang hebat yang akan mampu memecahkan kasus tersebut, maka akan timbul keyakinan dan rasa nyaman dalam diri kita saat berusaha menyelesaikan masalah tersebut. Akan ada gairah dan semangat untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Ketika ada gairah dan semangat maka peluang untuk menyelesaikan masalah dengan lebih baik pun menjadi lebih besar. Jika masalah itu, anggap saja bisa selesai dengan baik, maka ini akan menambah rasa percaya dirimu dan daya tahanmu jika kelak kamu menghadapi masalah-masalah lain yang serupa atau bahkan lebih besar daripada masalah tersebut. Bukankah seperti kata Nietszhe, apa yang tidak membunuh kita akan membuat kita lebih kuat?
Ketika kamu memposisikan diri kamu sebagai detektif dalam kasusmu ini, kamu menempatkan dirimu sebagai pemeran utama yang bisa mengubah ending dari film yang sedang kamu jalani. Kamu berubah menjadi orang penting yang harus diperhitungkan. Ketika kamu merasa seperti ini, maka kamu akan dapat menguasai masalah dan bukannya dikuasai oleh masalah.
Bagaimana dengan menempatkan masalah sebagai masalah?
Baiklah, seperti ini teorinya: jika merujuk pada ceritamu di atas, ketika kamu menempatkan masalah sebagai masalah, kamu sedang menempatkan dirimu sebagai korban dari masalahmu. Ketika kamu menempatkan dirimu sebagai korban, maka masalah kamu jadi bertambah: (1) masalah utama yang kamu hadapi, dan (2) efek ketidakyakinan dalam dirimu untuk menyelesaikan masalah karena kamu merasa sebagai korban. Akibatnya, kamu akan terus bergelung dalam masalah itu. Kamu mungkin bisa bertahan, tapi kamu jadi tidak akan ikhlas dan sering mengeluh dengan kondisimu. Kamu akan merasa tercekik di lingkaran setan yang tiada berujung. Ini akan membuatmu tambah tersiksa. Maka masalahnya menjadi berpangkat dua atau bahkan tiga—empat?—hiiih, males deh.
...Bahwa Kita Manusia
Kembali ke teori awal kita tentang masalah terjadi ketika ekspektasi atau harapan kita tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi, ada satu poin penting yang mesti digarisbawahi, terlebih oleh orang-orang yang perfeksionis.
Kamu mungkin punya target menjadi juara umum tiap tahun, menjadi pencetak gol terbanyak di ajang turnamen basket atau futsal, menjadi ketua OSIS yang sukses dalam setiap programnya, menjadi seorang bintang kelas, dan lain sebagainya, tapi ketika semua targetmu itu tidak tercapai, kamu harus rela mengakui bahwa kamu hanyalah manusia. Makhluk sempurna yang berusaha mencari kesempurnaan di luar dirinya yang malah membuatnya merasa serba tak sempurna.
Seorang adik kelasku pernah mengirimiku sms dan bertanya bagaimana caranya menghadapi rasa malu. Ketika membaca sms itu aku langsung saja teringat pada pengalaman memalukanku dan yang membuatku merasa buruk dan ah, intinya, membuatku berharap semua orang yang melihatku pada saat itu tiba-tiba saja terkena wabah amnesia yang akut, seperti yang terjadi dalam sinetron.
Tapi ketika aku berpikir lagi, ketika aku berusaha menerima kenyataan tingkahku yang memalukan itu, aku menemukan sebuah kenyataan bahwa kadang atau bahkan seringkali, kejadian memalukan ini diperlukan untuk melatih kita menjadi dewasa. Untuk kembali menyadarkan kita bahwa kita adalah manusia biasa yang bisa saja melakukan salah dan melakukan tindakan yang bodoh. Bahwa Tom Cruise sekalipun bisa terjatuh karena menginjak tali sepatunya. Bahwa adegan-adegan serba sempurna yang ‘tanpa cacat’ hanya ada dalam film-film, bukan di kehidupan nyata.
Hal-hal yang memalukan itu bisa melatih kita untuk menjadi lebih dewasa. Untuk menerima bahwa kita adalah manusia yang bisa gagal dan bisa sukses. Aku tahu masalah adik kelasku itu adalah rasa malunya karena tidak memenangkan salah satu perlombaan di sekolah. Maka, aku mengatakan kepadanya persis seperti apa yang telah kujelaskan kepadamu di paragraf sebelumnya, yang tentu saja dipersingkat demi kepentingan sms—terima bahwa kita hanyalah manusia.
Kamu mungkin punya target menjadi juara umum tiap tahun, menjadi pencetak gol terbanyak di ajang turnamen basket atau futsal, menjadi ketua OSIS yang sukses dalam setiap programnya, menjadi seorang bintang kelas, dan lain sebagainya, tapi ketika semua targetmu itu tidak tercapai, kamu harus rela mengakui bahwa kamu hanyalah manusia. Makhluk sempurna yang berusaha mencari kesempurnaan di luar dirinya yang malah membuatnya merasa serba tak sempurna.
Seorang adik kelasku pernah mengirimiku sms dan bertanya bagaimana caranya menghadapi rasa malu. Ketika membaca sms itu aku langsung saja teringat pada pengalaman memalukanku dan yang membuatku merasa buruk dan ah, intinya, membuatku berharap semua orang yang melihatku pada saat itu tiba-tiba saja terkena wabah amnesia yang akut, seperti yang terjadi dalam sinetron.
Tapi ketika aku berpikir lagi, ketika aku berusaha menerima kenyataan tingkahku yang memalukan itu, aku menemukan sebuah kenyataan bahwa kadang atau bahkan seringkali, kejadian memalukan ini diperlukan untuk melatih kita menjadi dewasa. Untuk kembali menyadarkan kita bahwa kita adalah manusia biasa yang bisa saja melakukan salah dan melakukan tindakan yang bodoh. Bahwa Tom Cruise sekalipun bisa terjatuh karena menginjak tali sepatunya. Bahwa adegan-adegan serba sempurna yang ‘tanpa cacat’ hanya ada dalam film-film, bukan di kehidupan nyata.
Hal-hal yang memalukan itu bisa melatih kita untuk menjadi lebih dewasa. Untuk menerima bahwa kita adalah manusia yang bisa gagal dan bisa sukses. Aku tahu masalah adik kelasku itu adalah rasa malunya karena tidak memenangkan salah satu perlombaan di sekolah. Maka, aku mengatakan kepadanya persis seperti apa yang telah kujelaskan kepadamu di paragraf sebelumnya, yang tentu saja dipersingkat demi kepentingan sms—terima bahwa kita hanyalah manusia.
Langganan:
Postingan (Atom)