Salam alaik
Dulu,saya agak ksulitan mengatur waktu untuk ngelola blog ini. Alasan-y krn kdang ribet aja mesti ngisi blog pas internetan. Ya,kadang kan inspirasi dtg ga slalu pas d warnet. Tp skrg alhamd,berkat khadiran nokia express music,saya bs ngeblog lewat hp. Jadiny kan bs kpn aja dmana aja. Tuh kan,nulisny aja kyk nulis sms. Tak apeulah. Betul, betul, betul?heu2.
Ke dpn-y,blog ini akan b'nama 'Tanpa Segelas Kopi: Sebuah Catatan Ringan Kehidupan'. Filosofinya ya,insyaAllah dlm blog ini saya mau share soal perenungan2 dan pengalaman saya. Ya. Begitu saja dahulu. Ke jakarta beli gula, sampai jumpa d postingan berikutnya. ;p
Rabu, 29 September 2010
Kamis, 08 April 2010
Takdir
Tentang satu hal takdir tak bisa diubah: dari siapa, dimana, dan kapan kita lahir. Siapa orang tua kita. Siapa yang bakal jadi saudara kita. Apa jenis kelamin kita. Setidak-tidaknya, begitulah yang kita ingat ketika kita berada di dunia. Sisanya, dalam kehidupan yang kita jalani, kita mengenal nasib sebagai variabel yang mampu diubah, yang mampu diarahkan: karena saya selalu berpikir takdir manusia seumpama akar, yang bercecabang, di mana manusia diibaratkan sebagai air, yang memiliki kekuasaan untuk menentukan ke cabang yang mana ia akan mengalir.
Senin, 21 September 2009
Angin
...aneh.
grey.
Seperti itu lagi.
Adakah hal lain menggangguku, jika begitu?
Fight, like there's no other choice.
And then, I stand up and freedom.
Seperti kata William Wallace, "Everbody's dies, not everybody really life."
grey.
Seperti itu lagi.
Adakah hal lain menggangguku, jika begitu?
Fight, like there's no other choice.
And then, I stand up and freedom.
Seperti kata William Wallace, "Everbody's dies, not everybody really life."
Rabu, 02 September 2009
Catatan Setelah Gempa Tasik 7,3 SR
Yang membuat kaget dari kejadian ini adalah: skalanya yang lebih tinggi daripada gempa di Jogja, berpotensi tsunami, dan lagi, kenyataan bahwa setelah bertahun-tahun, kita, khususnya di cianjur, tidak pernah terkena gempa.
Yang menjadi menarik adalah, bahwa getaran besar yang bisa bikin roboh gedung-gedung itu, berhasil, (untuk sementara), membuat pecinta pesbuk, menulis dinding tentang hal itu: nggak suka lah, istigfarlah, dan semuanya....
Dan yang menjadikanku sedikit paranoid adalah, kenyataan bahwa gempa ini mengingatkanku akan isi buku “Kiamat 2012”-nya Lawrence E Joseph. Sebagai muslim yang (berusaha) taat, aku tak percaya kiamat akan terjadi pada tahun 2012. Masih banyak tanda kiamat yang belum terjadi, dan itu butuh waktu.
Tapi sebagai seorang manusia rasional, aku percaya bahwa kemungkinan Bumi mengalami (banyak) kehancuran di tahun itu, sangat besar. Sebenarnya, tidak hanya di tahun itu. Tahun ini pun kemungkinannya sangat besar. Hidup adalah ketidakpastian dan kemungkinan.
Dan, melihat Yellowstone mulai semakin panas dan semakin aktif, aku pikir, adalah wajar, jika kita waspada, jika kita berjaga-jaga, sadar bahwa suatu hari dia pasti meledak—yang ledakannnya diperkirakan akan setara dengan ledakan yang terjadi pada Danau Toba 65ribu tahun yang lalu. Efeknya? ¾ makhluk Bumi PUNAH!
Apa yang bisa kita pelajari dari sini?
Lihatlah, tipologi manusia zaman kita adalah kumpulan dari tipologi manusia pada zaman nabi Nuh yang diwakili oleh Kan’an (anak yang durhaka), tipologi manusia zaman nabi Luth (homoseksual), tipologi Kabil (membunuh saudara—perang saudara), tipologi manusia era firaun (sihir, santet), tipologi masa zahiliyyah (menyembah berhala—uang, dst....). Adalah wajar, ketika Tuhan menimpakan azab kepada umat yang durhaka, karena begitulah sunnah-Nya. Tapi karena kecintaan-Nya kepada nabi Muhammad, Allah sengaja mengulur waktu, memberi kesempatan begitu luas bagi manusia untuk bertobat, untuk kembali ke pangkuan-Nya. Dikutip dengan indah oleh Leo Tolstoy, “Tuhan Maha Tahu, tapi Dia Menunggu”.
Tapi apa lacur, jika orang-orang malah semakin jauh. Yang nggak puasa, berani terang-terangan makan di luar (bahkan bangga?), kehidupan cinta sudah dipenuhi seks bebas, perang saudara dimana-mana, hedonisme, sekularitas... alasan apa lagi yang hendak kita utarakan kepada-Nya, hanya demi Dia berkenan menangguhkan azab-Nya?
Bahwa, ya, memang masih banyak orang yang taat padanya. Bahwa, ya, memang masih banyak orang yang sadar dan patuh pada-Nya. Tapi apalah artinya itu semua, jika bukan kita yang ambil bagian di dalamnya? Karena, hanya dengan menjadi bagian dari semua itulah—manusia-manusia taat—kita—jika pun mati karena bencana di dunia—akan dihidupkan kembali dalam ridho dan cinta-Nya. Insya Allah.
Yang menjadi menarik adalah, bahwa getaran besar yang bisa bikin roboh gedung-gedung itu, berhasil, (untuk sementara), membuat pecinta pesbuk, menulis dinding tentang hal itu: nggak suka lah, istigfarlah, dan semuanya....
Dan yang menjadikanku sedikit paranoid adalah, kenyataan bahwa gempa ini mengingatkanku akan isi buku “Kiamat 2012”-nya Lawrence E Joseph. Sebagai muslim yang (berusaha) taat, aku tak percaya kiamat akan terjadi pada tahun 2012. Masih banyak tanda kiamat yang belum terjadi, dan itu butuh waktu.
Tapi sebagai seorang manusia rasional, aku percaya bahwa kemungkinan Bumi mengalami (banyak) kehancuran di tahun itu, sangat besar. Sebenarnya, tidak hanya di tahun itu. Tahun ini pun kemungkinannya sangat besar. Hidup adalah ketidakpastian dan kemungkinan.
Dan, melihat Yellowstone mulai semakin panas dan semakin aktif, aku pikir, adalah wajar, jika kita waspada, jika kita berjaga-jaga, sadar bahwa suatu hari dia pasti meledak—yang ledakannnya diperkirakan akan setara dengan ledakan yang terjadi pada Danau Toba 65ribu tahun yang lalu. Efeknya? ¾ makhluk Bumi PUNAH!
Apa yang bisa kita pelajari dari sini?
Lihatlah, tipologi manusia zaman kita adalah kumpulan dari tipologi manusia pada zaman nabi Nuh yang diwakili oleh Kan’an (anak yang durhaka), tipologi manusia zaman nabi Luth (homoseksual), tipologi Kabil (membunuh saudara—perang saudara), tipologi manusia era firaun (sihir, santet), tipologi masa zahiliyyah (menyembah berhala—uang, dst....). Adalah wajar, ketika Tuhan menimpakan azab kepada umat yang durhaka, karena begitulah sunnah-Nya. Tapi karena kecintaan-Nya kepada nabi Muhammad, Allah sengaja mengulur waktu, memberi kesempatan begitu luas bagi manusia untuk bertobat, untuk kembali ke pangkuan-Nya. Dikutip dengan indah oleh Leo Tolstoy, “Tuhan Maha Tahu, tapi Dia Menunggu”.
Tapi apa lacur, jika orang-orang malah semakin jauh. Yang nggak puasa, berani terang-terangan makan di luar (bahkan bangga?), kehidupan cinta sudah dipenuhi seks bebas, perang saudara dimana-mana, hedonisme, sekularitas... alasan apa lagi yang hendak kita utarakan kepada-Nya, hanya demi Dia berkenan menangguhkan azab-Nya?
Bahwa, ya, memang masih banyak orang yang taat padanya. Bahwa, ya, memang masih banyak orang yang sadar dan patuh pada-Nya. Tapi apalah artinya itu semua, jika bukan kita yang ambil bagian di dalamnya? Karena, hanya dengan menjadi bagian dari semua itulah—manusia-manusia taat—kita—jika pun mati karena bencana di dunia—akan dihidupkan kembali dalam ridho dan cinta-Nya. Insya Allah.
Senin, 31 Agustus 2009
Miracle is Me
Percaya pada keajaiban. Efek dari kalimat itu akan menjadi berbeda, jika kau mengatakannya kepadaku, bertahun-tahun yang lalu. Tapi kehadiran Andrea Hirata, Donny Dhirgantoro, Pembuat Jejak, Erbe Sentanu, dan Rhonda Byrne, telah membuatku sedikit gila, untuk kemudian berani melangkah, menantang nasib, menantang diriku sendiri untuk meloncat lebih tinggi dari dugaanku, belajar lebih giat daripada yang kukira harus kulakukan, dan berdoa lebih ikhlas dan khusyu daripada yang biasa aku lakukan.
Hubby La Vita Nova adalah keajaiban bagiku. Karena kelahirannya adalah proses panjang yang melibatkan rasa sakit hati, kelelahan, tapi nothing to lose karena Allah selalu membisikiku, menuntun langkah-langkahku.
Dengan keyakinan yang kupancarkan ke semesta, satu demi satu pahlawan datang ke dalam hidupku, mewarnai perjuanganku, turut serta membantu proses kelahiran ini lebih mudah.
Adalah kakak perempuanku, Ai Nurmaliah, yang percaya penuh kepadaku... mendukungku secara finansial dan moral dengan begitu luar biasa--tanpa bertanya untuk apa. Sofi, yang tanpa dukungannya sejak awal, aku nyaris tenggelam, kembali ke dalam ketidakyakinan akan mimpi. Lantas, Arif, yang membuat aku semakin yakin bahwa intuisiku tak mengkhianatiku.
Kehadirannya membuatku kembali bersemangat, kembali merevisi mimpiku yang ku sengaja biarkan tak terlalu tinggi. "Akang selalu bilang bahwa kita harus memasang target yang jauh lebih tinggi daripada kemampuan kita," dan hanya dengan kalimat itu, aku seperti ditampar untuk menyadari self devaluation yang menyerangku, dan aku terduduk, sadar bahwa aku harus bangkit. Sekarang. Tak ada kapan-kapan lagi.
Tentu saja, banyak kendala yang menghadang, yang merupakan nuansa-nuansa seru dalam perjuangan meraih mimpi--ibarat pohon-pohon dan semak belukar, yang menggores kulit kita selama pendakian dan penaklukan gunung.
Bantuan demi bantuan datang. Ari, sahabat kecilku, bersedia dengan sungguh untuk mendesain coverku tanpa bayaran (hasilnya luar biasa memuaskan, demi Tuhan). Kang Unus, dengan rendah hati, rela aku repotkan untuk melay out novel itu.
Keajaiban paling memukau adalah hadirnya "Beruang 17". Ini semakin mengukuhkanku bahwa aku adalah keajaiban. Keajaiban akan hadir, laksana pertolongan-pertolongan tak terduga saat pahlawan kita terdesak antara hidup dan mati.
Barangkali karena perasaan positif yang aku lemparkan ke semesta, atau karena rasa nothing to lose yang membuatku yakin bahwa 'apapun yang terjadi, semua akan berakhir dengan bahagia, sesuai dengan apa yang aku inginkan'.
It's not about my fight, it's all about God help.
Allah memelukku, mengantarkanku berjalan sejauh ini, sejauh langkah yang tak pernah kusadari akan tiba jua kepadaku, yang memimpikannya sedari dulu.
Jadi, jika kau punya mimpi. Yakini, berjuang, dan lihatlah apa yang akan terjadi. Seperti itulah proses kelahiran Hubby La Vita Nova bagiku.
Miracle is me, miracle is you, miracle is us, miracle is everyone else.
Hubby La Vita Nova adalah keajaiban bagiku. Karena kelahirannya adalah proses panjang yang melibatkan rasa sakit hati, kelelahan, tapi nothing to lose karena Allah selalu membisikiku, menuntun langkah-langkahku.
Dengan keyakinan yang kupancarkan ke semesta, satu demi satu pahlawan datang ke dalam hidupku, mewarnai perjuanganku, turut serta membantu proses kelahiran ini lebih mudah.
Adalah kakak perempuanku, Ai Nurmaliah, yang percaya penuh kepadaku... mendukungku secara finansial dan moral dengan begitu luar biasa--tanpa bertanya untuk apa. Sofi, yang tanpa dukungannya sejak awal, aku nyaris tenggelam, kembali ke dalam ketidakyakinan akan mimpi. Lantas, Arif, yang membuat aku semakin yakin bahwa intuisiku tak mengkhianatiku.
Kehadirannya membuatku kembali bersemangat, kembali merevisi mimpiku yang ku sengaja biarkan tak terlalu tinggi. "Akang selalu bilang bahwa kita harus memasang target yang jauh lebih tinggi daripada kemampuan kita," dan hanya dengan kalimat itu, aku seperti ditampar untuk menyadari self devaluation yang menyerangku, dan aku terduduk, sadar bahwa aku harus bangkit. Sekarang. Tak ada kapan-kapan lagi.
Tentu saja, banyak kendala yang menghadang, yang merupakan nuansa-nuansa seru dalam perjuangan meraih mimpi--ibarat pohon-pohon dan semak belukar, yang menggores kulit kita selama pendakian dan penaklukan gunung.
Bantuan demi bantuan datang. Ari, sahabat kecilku, bersedia dengan sungguh untuk mendesain coverku tanpa bayaran (hasilnya luar biasa memuaskan, demi Tuhan). Kang Unus, dengan rendah hati, rela aku repotkan untuk melay out novel itu.
Keajaiban paling memukau adalah hadirnya "Beruang 17". Ini semakin mengukuhkanku bahwa aku adalah keajaiban. Keajaiban akan hadir, laksana pertolongan-pertolongan tak terduga saat pahlawan kita terdesak antara hidup dan mati.
Barangkali karena perasaan positif yang aku lemparkan ke semesta, atau karena rasa nothing to lose yang membuatku yakin bahwa 'apapun yang terjadi, semua akan berakhir dengan bahagia, sesuai dengan apa yang aku inginkan'.
It's not about my fight, it's all about God help.
Allah memelukku, mengantarkanku berjalan sejauh ini, sejauh langkah yang tak pernah kusadari akan tiba jua kepadaku, yang memimpikannya sedari dulu.
Jadi, jika kau punya mimpi. Yakini, berjuang, dan lihatlah apa yang akan terjadi. Seperti itulah proses kelahiran Hubby La Vita Nova bagiku.
Miracle is me, miracle is you, miracle is us, miracle is everyone else.
Selasa, 28 Juli 2009
Takdir
Penjelasan yang tidak holistik, pilihan cari aman yang diambil oleh para guru-ngajiku, membuatku sering berpikir dan bertanya-tanya soal takdir. "Yakini saja," seringkali guru-ngajiku berkata, "Tidak perlu terlalu mendalami. Bisi malah membuat kita kufur dan murtad."
Semasa kecil, aku mencerap titah mereka dan karenanya aku seringkali paranoid jika pertanyaan demi pertanyaan tentang konsep takdir menyerbu benakku, membuatku mengalami perang batin, semacam gangguan auditorial.
Bertahun-tahun pertanyaan-pertanyaan itu menyeruak, tenggelam, kembali ke permukaan, lalu tenggelam lagi. Seperti ombak. Hingga, ketika pertanyaan-pertanyaan itu kembali menyeruak, aku menangkapnya, dan bertekad menghadapinya.
Selama berjam-jam aku berdiskusi dan berdebat tentang konsep takdir dan nasib dengan kakak iparku yang seorang guru-ngaji. Ayahku seorang kiai sebenarnya, tapi beliau sudah 5 tahun lalu meninggal. Aku tak sempat menanyakan hal ini.
Akhirnya, aku menemukan sebuah jawaban--yang paling tidak--memberiku ketentraman batin dan pemahaman untuk saat ini. Suatu kondisi yang membuatku melihat dengan mata batinku, betapa Maha Jeniusnya Allahku. Betapa Mahakuasanya Tuhanku itu.
Jadi, jika Jostein Gaarder bilang bahwa takdir itu mirip bunga kol. Aku ingin bilang bahwa takdir seperti akar. Akar yang bercecabang yang tiap cecabangnya memiliki cecabang demi cecabang lagi, begitu seterusnya, tak hingga jumlahnya, dan semuanya menjurus ke satu titik akhir: kematian.
Dan manusia, menurutku, adalah air yang diberi kekuasaan oleh Allah untuk memilih lewat cecabang mana ia ingin lewat. Sesekali, memang, ia seperti 'dipaksa' untuk melalui satu cecabang akar tertentu, namun di ujung cecabang itu, Allah kembali memberinya kekuasaan untuk memilih lewat cecabang mana ia akan melanjutkan.
Karena itu, ada kalanya, mungkin, terjadi kondisi dimana manusia ditakdirkan secara 'paksa' untuk menjadi seorang pembunuh. Seperti si pembunuh Umar bin Khattab r.a. Jika sejak zaman azali dia memang sudah ditakdirkan Allah untuk menjadi pembunuh, itu artinya dia dipaksa melalui kekuatan takdir untuk menjadi pembunuh.
Tapi, di 'ujung' takdir itu, Allah kembali memberi manusia itu kebebasan untuk memilih lewat cecabang mana dia akan melanjutkan hidupnya. Ada cecabang yang dimulai dengan taubat dan ada cecabang lain yang dimulai dengan kebahagiaan setelah melakukan perbuatan dzalim.
Itulah kenapa, menurut hematku, rangkaian kausalitas dalam hidup memang benar-benar berlaku. Ini juga menunjukkan kekuatan manusia--lewat kebeban yang dianugerahkan Allah--dalam memilih dan menentukan nasibnya sendiri.
Jadi, pada dasarnya, Allah tidak menciptakan satu takdir bagi kita. Tapi tak-hingga takdir. Dia meletakkan kita di titik awal takdir--saat lahir--dan memberi kebebasan kepada kita untuk memilih takdir mana yang ingin kita pilih untuk hidup kita.
Jadi, jangan salahkan Tuhan jika hidup Anda tidak bahagia.
Wallahu a'lam bis shawab.
Semasa kecil, aku mencerap titah mereka dan karenanya aku seringkali paranoid jika pertanyaan demi pertanyaan tentang konsep takdir menyerbu benakku, membuatku mengalami perang batin, semacam gangguan auditorial.
Bertahun-tahun pertanyaan-pertanyaan itu menyeruak, tenggelam, kembali ke permukaan, lalu tenggelam lagi. Seperti ombak. Hingga, ketika pertanyaan-pertanyaan itu kembali menyeruak, aku menangkapnya, dan bertekad menghadapinya.
Selama berjam-jam aku berdiskusi dan berdebat tentang konsep takdir dan nasib dengan kakak iparku yang seorang guru-ngaji. Ayahku seorang kiai sebenarnya, tapi beliau sudah 5 tahun lalu meninggal. Aku tak sempat menanyakan hal ini.
Akhirnya, aku menemukan sebuah jawaban--yang paling tidak--memberiku ketentraman batin dan pemahaman untuk saat ini. Suatu kondisi yang membuatku melihat dengan mata batinku, betapa Maha Jeniusnya Allahku. Betapa Mahakuasanya Tuhanku itu.
Jadi, jika Jostein Gaarder bilang bahwa takdir itu mirip bunga kol. Aku ingin bilang bahwa takdir seperti akar. Akar yang bercecabang yang tiap cecabangnya memiliki cecabang demi cecabang lagi, begitu seterusnya, tak hingga jumlahnya, dan semuanya menjurus ke satu titik akhir: kematian.
Dan manusia, menurutku, adalah air yang diberi kekuasaan oleh Allah untuk memilih lewat cecabang mana ia ingin lewat. Sesekali, memang, ia seperti 'dipaksa' untuk melalui satu cecabang akar tertentu, namun di ujung cecabang itu, Allah kembali memberinya kekuasaan untuk memilih lewat cecabang mana ia akan melanjutkan.
Karena itu, ada kalanya, mungkin, terjadi kondisi dimana manusia ditakdirkan secara 'paksa' untuk menjadi seorang pembunuh. Seperti si pembunuh Umar bin Khattab r.a. Jika sejak zaman azali dia memang sudah ditakdirkan Allah untuk menjadi pembunuh, itu artinya dia dipaksa melalui kekuatan takdir untuk menjadi pembunuh.
Tapi, di 'ujung' takdir itu, Allah kembali memberi manusia itu kebebasan untuk memilih lewat cecabang mana dia akan melanjutkan hidupnya. Ada cecabang yang dimulai dengan taubat dan ada cecabang lain yang dimulai dengan kebahagiaan setelah melakukan perbuatan dzalim.
Itulah kenapa, menurut hematku, rangkaian kausalitas dalam hidup memang benar-benar berlaku. Ini juga menunjukkan kekuatan manusia--lewat kebeban yang dianugerahkan Allah--dalam memilih dan menentukan nasibnya sendiri.
Jadi, pada dasarnya, Allah tidak menciptakan satu takdir bagi kita. Tapi tak-hingga takdir. Dia meletakkan kita di titik awal takdir--saat lahir--dan memberi kebebasan kepada kita untuk memilih takdir mana yang ingin kita pilih untuk hidup kita.
Jadi, jangan salahkan Tuhan jika hidup Anda tidak bahagia.
Wallahu a'lam bis shawab.
Langganan:
Postingan (Atom)